jenis jenis wakaf

Produk asuransi syariah dengan program wakaf memang dinilai dapat memberikan tawaran yang menarik pada masyarakat Indonesia khususnya yang beragama Islam.

Secara umum, wakaf merupakan sebuah bentuk kedermawanan dengan memberikan manfaat yang berkelanjutan untuk masyarakat sehingga pewakaf dijanjikan pahala yang tidak terputus.

Dalam manajemen keuangan sekarang ini, mewakafkan manfaat asuransi dan investasi syariah berdasarkan hukum Islam diperbolehkan. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia juga sudah mengeluarkan fatwa terkait asuransi jiwa syariah pada 2016 silam mengenai Wakaf Mansfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah.

Secara umum, konsep wakaf dalam asuransi ini dibagi tiga jenis, yaitu wakaf fund, wakaf polis, dan wakaf sebagai fitur produk asuransi berbasis syariah.

Wakaf Fund ini sebagai model asuransi, yang mana Tabarru fund pada asuransi jiwa syariah disebut sebagai dana wakaf. Perusahaan asuransi telebih dahulu membentuk dana wakaf, lalu para peserta asuransi mulai mengumpulkan dana (dana tabarru) yang nantinya akan dimasukkan ke dalam dana wakaf fund.

jenis jenis wakaf

Jenis wakaf dalam asuransi yang kedua adalah wakaf polis, yaitu polis yang sudah ada pada pemegang polis, akan dimanfaatkan dengan mewakafkannya pada lembaga atau badan pengelola wakaf. Nantinya polis yang diterima oleh pengelola wakaf bisa berasal dari asuransi konvensional maupun asuransi berbasis syariah.

Ada juga wakaf dengan fitur yang dibuat oleh perusahaab asuransi dengan basis syariah. Produk ini biasanya memang memanfaatkan hasil dari investasi dan juga asuransi untuk diwakafkan.

Manfaat asuransi yang boleh diwakafkan maksimal adalah 45 persen dari total manfaat asuransi. Setelah manfaat asuransi sudah menjadi hak dari pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat dari asuransi, barulah dilaksanakan ikrar wakaf. Pihak yang ditunjuk ini harus menyatakan janji yang mengikat bahwa manfaat asuransi tersebut akan diwakafkan. Untuk wakaf manfaat investasi ketentuannya hampir sama dengan manfaat asuransi.

Pihak yang ditunjuk ini biasanya lembaga yang biasa mengelola wakaf seperti Rumah Zakat, Yayasan Pesantren Al Azhar, Badan Wakaf Indonesia, Dompet Dhuafa, dan yayasan Global Wakaf.

Menurut Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ahmad Sya’roni menyebut bahwa asuransi wakaf dalam program asuransi berbasis syariah punya potensi besar untuk berkembang di Indonesia. Sebab Indonesia memiliki jumlah populasi penduduk muslim terbesar di dunia.

Apalagi minat masyarakat Indonesia untuk berwakaf juga cukup besar. Terlihat dari banyaknya wakaf tanah dan bangunan. Tentu tidak menutup kemungkinan juga wakaf dalam program asuransi juga akan diminati oleh umat Islam.

Melalui fatwa MUI No.106/DSN-MUI/X/2016 ini diharapkan wakaf uang dari manfaat asuransi dan investasi bisa memberikan andil dalam perkembangan industri syariah. Namun, perlu ditegaskan bahwa sebuah produk asuransi perlu pedoman implementasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Tidak menutup kemungkinan juga, nantinya akan ada banak variasi produk baru, khususnya pada wakaf polis produk asuransi jiwa syariah. Nantinya setiap perusahaan asuransi syariah yang ingin mengimplementasikan  produk wakaf bisa mengajukannya pada OJK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here